Nikel dan Kobalt : Hasil Tambang Yang Saat Ini (Semakin) Menjadi Incaran

Tambang nikel di Morowali, Sulawesi Tenggara

Semakin berkembangnya permintaan mobil listrik, semakin besar juga permintaan akan baterai. Berbicara mobil listrik, otomatis berbicara baterainya. Kemampuan mobil listrik sangat dipengaruhi oleh baterai yang dimilikinya, tidak peduli seberapa canggih fitur-fitur yang dimiliki mobil listrik tersebut. Kemampuan baterai pada mobil listrik juga berhubungan langsung dengan jarak tempuh yang bisa dicapai oleh sebuah mobil listrik, yang mana ini juga menjadi salah satu indikator penting bagi calon konsumen untuk membeli mobil listrik, apapun mereknya.

Pada sebuah baterai mobil listrik berjenis lithium-ion memiliki banyak komponen katoda yang biasanya terbuat dari nikel dan kobalt. Kedua material ini sebenarnya tidaklah terlalu ‘langka’ seperti halnya emas, namun tidak terlalu melimpah pula. Yang menjadi rumit sekarang nikel dan kobalt juga sangat dibutuhkan oleh sektor industri lain jauh sebelum booming mobil listrik melanda dunia, akibatnya permintaan atas kedua material tersebut semakin meningkat pula. Dalam sebuah baterai li-on dibutuhkan juga beberapa jenis logam lainnya seperti alumunium dan mangan, namun kedua material tersebut hingga kini masih memiliki ketersedian yang lumayan banyak di pasar dunia.

Kobalt

Pada sebuah baterai mobil listrik, unsur kobalt menjadi paling problematik dibandingkan dengan Nikel. Material ini bukan hanya harganya lebih mahal, namun juga setengah dari total kapasitas produksi dunia masih berasal dari satu negara yakni Republik Kongo, dimana hingga saat ini masalah korupsi dan konflik bersenjata masih melanda negara di benua afrika tersebut. Ditambah lagi dengan masalah lain yang ikut mencoreng kegiatan penambangan kobalt di Kongo adalah penggunaan tenaga kerja yang masih dibawah umur.

Kobalt

Saat ini kuantitas penggunaan kobalt pada mobil listrik bisa dibilang sangat rendah. Secara umum kobalt hanya digunakan sebanyak 5% dari total berat sebuah baterai mobil listrik, dan bukan tidak mungkin kedepannya akan lebih berkurang lagi. Padahal beberapa tahun kebelakang sebuah mobil listrik bisa membutuhkan 33% kobalt untuk setiap baterainya.

Dengan kemajuan teknologi, beberapa pabrikan mulai mengganti material kobalt dengan material lain atau bahkan tidak menggunakan lagi. Beberapa pabrikan baterai di Cina mulai mengadopsi teknologi baterai li-on berjenis LFP, LMP dan LMO yang mana baterai jenis tersebut sudah sama sekali tidak membutuhkan kobalt. Sementara itu Tesla dan Panasonic saat ini juga menggunakan katoda yang terbaru yang dinamakan NCA, yang mana komponen ini memiliki kandungan kobalt yang jauh lebih sedikit.

Nikel

Apabila unsur kobalt semakin sedikit digunakan pada baterai mobil listrik, sebaliknya nikel semakin dibutuhkan dari hari ke hari. Pada sel baterai berjenis NMC 811 yang baru diperkenalkan pabrikan baterai beberapa bulan belakangan ini, membutuhkan nikel sebanyak 88% dari total berat baterai tersebut. Bandingkan dengan jenis sel baterai NMC 333 yang jamak digunakan pada 3 tahun lalu hanya membutuhkan nikel sebanyak 33% dari total material baterai.

Nikel

Nikel yang memiliki karakter lebih tahan dan kuat dibandingkan besi, relatif masih banyak kuantitasnya didalam perut bumi. Beberapa negara penghasil nikel terbesar didunia diantaranya, Indonesia, Filipina, Kanada dan Kaledonia Baru. Negara-negara tersebut mendominasi setengah dari total produksi dunia.

Berbicara cadangan nikel, saat ini diperkirakan ada 94 ton nikel diseluruh dunia, dimana negara kita Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki cadangan paling banyak. Diperkirakan kita memiliki cadangan nikel sebanyak 21 juta ton atau sekitar 22% dari total cadangan dunia. Disusul dengan Australia dengan total cadangan berkisar 20 juta ton, kemudian Brazil dengan 16 juta ton dan Rusia dengan total cadangan nikel sebanyak 6,9 juta ton.

Pada tahun 2019 total produksi nikel dunia mencapai angka 2,7 juta ton. Dengan cadangan yang ada diperkirakan kita masih bisa menambang nikel setidaknya selama 57 tahun kedepan. Perlu diketahui juga, lebih dari dua pertiga produksi nikel di dunia digunakan untuk pembuatan baja. Sisanya sebesar 13% digunakan untuk peralatan elektronik dan 5% (107 ton per tahun) digunakan untuk pembuatan baterai. Pada periode 2007 hingga 2015 total produksi nikel dunia masih bisa menutupi kebutuhan dunia pada saat itu. Baru sejak 2016 permintaan nikel mulai merangkak naik yang diakibatkan pertumbuhan industri mobil listrik dan sedikit demi sedikit menggerogoti cadangan nikel dunia.

Apabila kita melihat harga nikel dunia dari situs LME, bisa kita lihat sejak tahun 2014 pergerakan harga nikel per ton relatif fluktuatif. Pada awal tahun ini saja harga nikel sempat menyentuh 19,600$/ton, kini bulan Maret pada saat artikel ini ditulis harganya turun menjadi 16,180$/ton. Seperti kebanyakan komoditas penting lainnya, fluktuatifnya harga nikel dunia tentu saja dipengaruhi beberapa faktor termasuk diantaranya geopolitik antara negara yang melakukan perdagangan seperti misalnya Cina dan Amerika Serikat. Selain itu kebijakan harga komoditas juga bisa dipengaruhi oleh kebijakan suatu negara yang memang menguasai sumber daya komoditi tertentu.

Sebagai contoh, Sejak Presiden Joko Widodo memutuskan untuk membuat kebijakan larangan ekspor nikel mentah, akibatnya harga komoditas ini mengalami kenaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pada tahun 2015 misalnya, harga nikel dunia masih di angka dibawah 10 ribu dolar /ton, namun kini harganya menyentuh 16,180 $/ton. Kebijakan ini memang bertujuan untuk memberikan nilai tambah bagi Indonesia dan juga agar menarik minat investor untuk melakukan kerjasama didalam negeri. Karena Indonesia kaya dengan cadangan nikel, maka Presiden Jokowi tidak ingin menyia-nyiakan dan ingin membangun industri mobil listrik termasuk industri pendukungnya, seperti baterai. Taktik ini rupanya ampuh, saat ini semua perusahaan top 3 baterai dunia sudah menandatangani kerjasama diberbagai sektor, dari penambangan nikel hingga pembuatan baterai dan mobil listrik. Kecuali Uni Eropa yang keberatan dengan kebijakan Indonesia ini dan mengajukan gugatan ke organisasi perdagangan dunia.

Sumber referensi:

  1. https://www.nsenergybusiness.com/features/nickel-reserves-countries/
  2. https://www.lesnumeriques.com/voiture/batteries-de-vehicules-electriques-une-production-dominee-par-une-poignee-d-acteurs-asiatiques-a160095.html#catl-le-leader-mondial-de-la-production-de-batteries
  3. https://www.lme.com/en-GB/Metals/Non-ferrous/Nickel#tabIndex=2