Mengenal Istilah WLTP Pada Kendaraan Listrik

Apabila kita perhatikan pada kebanyakan mobil listrik terutama pada bagian spesifkasi tekniknya, seringkali terdapat singkatan WLTP khususnya pada bagian jarak tempuh maksimal yang bisa dicapai sebuah mobil listrik. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan istilah tersebut? hubungannya apa dengan kemampuan mobil listrik?

Sebelum mengenal istilah WLTP, perlu kiranya mengetahui juga istilah NEDC yang juga memiliki fungsi hampir sama. NEDC sendiri adalah singkatan dari ‘New European Driving Cycle’, istilah ini merujuk pada standar homologasi pada mobil baru, yang mana standar ini untuk mengetahui besaran konsumsi bahan bakar dan emisi yang dikeluarkan pada mobil tersebut. Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 di Eropa, namun saat ini standar ini sudah tidak umum digunakan lagi karena diangggap tidak akurat dengan kondisi penggunaan mobil sebenarnya. NEDC ini biasanya dilakukan memang pada uji jalan di tempat, tidak dilakukan pada kondisi jalan sebenarnya. Ditambah lagi dengan kasus dieselgate yang menimpa group VW, standar NEDC sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

WLTP atau ‘World Harmonised Light Vehicle Test Procedure’ adalah standar homologasi emisi dan konsumsi energi terbaru yang digunakan Uni Eropa saat ini. Standar ini wajib diujicobakan pada mobil baru yang diproduksi sejak bulan September 2018 dan termasuk mobil-mobil baru produksi tahun-tahun sebelumnya yang masih belum terjual namun menggunakan standar NEDC. Proses pengujian WLTP diklaim lebih lengkap dibandingkan dengan pada pengujian NEDC, pengujian pada mobil mesin bensin dilakukan dengan cara melakukan kecepatan tertinggi hingga 131,3 km(122 km/jam pada NDEC), Akselerasi dilakukan hingga 50 km/jam dalam waktu 14 detik (26 detik pada NEDC), penggunaan penggantian gigi transmisi (Satu posisi gigi transmisi pada NEDC) dan penghitungan CO2 diukur pada suhu 14°C (20 -30 °C pada NDEC).

Sedangkan pengujian WLTP pada mobil listrik dilakukan agak berbeda. Mobil listrik akan diuji melalui dua sesi model berkendara, mode berkendara dengan kecepatan berubah-rubah dan mode berkendara dengan kecepatan konstan. Namun sebelumnya mobil listrik yang akan diuji harus dalam keadaan baterai penuh, agar mudah melakukan pengukuran energi listrik yang hilang dalam pengujian tersebut, dan tentu saja tidak ada pengukuran kadar emisi pada pengujian mobil listrik.

Namun ada perbedaan karakteristik dalam hal penggunaan energi antara mobil listrik dan mobil konvensional. Jika pada mobil konvensional penggunaan bahan bakar akan sangat efisien pada kecepatan rata-rata 80 km/jam, sedangkan mobil listrik semakin semakin kecepatan tinggi semakin berkurang juga energi listriknya sehingga jarak tempuhnya akan berkurang. Namun apabila dikondisi jalan perkotaan, mobil listrik akan sangat efisien, bahkan bisa lebih efisien daripada angka yang dihasilkan test siklus WLTP, sebaliknya jika dipacu jalan tol misalnya dengan kecepatan 130 km/jam maka jarak tempuhnya akan berkurang drastis.

Dengan begitu tes WLTP bagaimanapun tidak akan pernah akurat 100 % sesuai dengan kenyataan dilapangan, karena tes tetap saja dilakukan ditempat pengetesan, namun setidaknya kita bisa mengetahui kira-kira sebarapa jauh jarak tempuh dan konsumsi energi dari setiap mobil listrik yang ditawarkan pabrikan otomotif.