Fixed, Mobil Listrik Lebih Ramah Lingkungan Berdasarkan Penelitian Terbaru

Category: Berita, Mobil Listrik 65 0

Sebuah LSM asal Eropa ‘Transport and Environment’ mengumumkan baru-baru ini hasil studi terbarunya bahwa mobil listrik – termasuk produksi pendukungnya seperti baterai dan daya listrik, tetap lebih ramah lingkungan dan mengeluarkan CO2 dua kali hingga tiga kali lebih sedikit bila dibandingkan dengan mobil konvensional seperti mobil bensin atau diesel.

Seperti kita tahu mobil listrik walaupun popularitasnya meningkat namun tidak sedikit yang masih ragu apakah mobil listrik benar-benar lebih ramah lingkungan dan mengeluarkan CO2 lebih sedikit dibandingkan dengan mobil biasa. Banyak orang beranggapan walaupun pada penggunaan sehari-hari mobil listrik tidak mengeluarkan CO2, namun proses produksi mobil listrik terutama baterai jauh lebih mencemari lingkungan daripada memproduksi mobil biasa. Belum lagi sumber listrik yang diproduksi oleh kebanyakan negara masih berasal dari batubara seperti halnya indonesia.

Oleh karena itulah LSM yang bermarkas di Belgia tersebut melakukan studi dengan memasukkan faktor pembuatan baterai pada mobil listrik dan sistem produksi listrik yang digunakan, bahkan pada situs resminya LSM tersebut meyediakan perbandingan antara mobil listrik dan mobil normal yang disimulasikan berdasarkan asal negara mobil listrik tersebut dibuat dan di negara mana mobil listrik tersebut digunakan.

Apabila menggunakan simulasi tersebut dengan mengambil contoh misalnya mobil listrik yang dibeli tahun 2020 dan berukuran sedang seperti VW Golf misalnya, lalu mobil tersebut misalnya diproduksi di Cina dimana produksi listrik 60% persen menggunakan Batu bara, kemudian mobil listrik tersebut digunakan di negara Jerman dimana 28% listrik di negara tersebut masih diproduksi dengan batu bara juga, maka mobil listrik tersebut ternyata 54% masih lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan mobil bensin biasa dengan ukuran yang sama.

Untuk situasi paling parah misalnya menggunakan mobil listrik buatan Cina lalu digunakan sehari-hari di Polandia dimana produksi listriknya sebagian besar dari batu bara juga, maka mobil listrik tetap 28 persen lebih sedikit mengeluarkan CO2 dibandingkan dengan mobil konvensional. Sedangkan situasi yang paling ideal misalnya mobil listrik buatan Swedia, lalu mobil tersebut dipakai di Swedia pula, maka dengan kombinasi ini mobil listrik 81% lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan mobil konvensional. Ini terjadi karena sebagian besar listrik yang diproduksi di Swedia sudah menggunakan tenaga nuklir.

Sayang di simulasi tersebut belum ada negara-negara di Asia seperti Indonesia misalnya, namun apabila kita melihat negara Italia yang produksi listriknya hampir 60% menggunakan batu bara, sedangkan listrik di Indonesia 61% juga berasal dari batu bara maka dengan menggunakan simulasi yang sama angka yang muncul adalah 55%, yang berarti mobil listrik buatan Cina dan digunakan di Indonesia akan mengeluarkan 55% CO2 lebih rendah daripada mobil biasa. Namun ini tentunya hanya perkiraan kasar berdasarkan persentase sumber energi yang digunakan dari kedua negara tersebut.

Selain itu LSM Transport and Environment tersebut juga menekankan bahwa angka persentase tersebut dipengaruhi juga oleh penggunaan energi yang sangat efisien oleh mobil listrik dibandingkan dengan mobil biasa, dimana mobil listrik hanya akan hilang 10% energinya dibandingkan dengan mobil biasa yang hilang 70% persen pada proses pembakaran mesin bensin/solar.

Sumber:

Related Articles

Add Comment